Cerpen "SECERCAH HARAPAN DALAM KEHAMPAAN"

SECERCAH HARAPAN DALAM KEHAMPAAN

Mentari pagi tersenyum memberikan sacercah harapan pada Ayu, gadis manis ini sangat mempesona. Sebagai seorang muslimah dia sangat menjaga kesucian dirinya. Harapan- harapan Ayu untuk menjadi seorang penulis telah mendarah daging di tubuhnya.
Walaupun orang tua Ayu terbilang sebagai orang terkaya di kotanya


Namun dia tak pernah sombong atau membangga- banggakan kebesaran orang tuanya di depan teman- temannya.Justru ia merasa malu jika suatu saat dia tidak dapat seperti orang tuanya.Pagi itu seperti biasanya ia mulai memainkan jari- jari manisnya diatas kertas berwarna pink.Coretan- coretan tangannya melukiskan secercah harapan dalam benaknya.Lantunan huruf- huruf berjajar indah oleh jari manis itu hingga menjadi sebuah kalimat yang indah dan sangat menyentuh hati.

Sekedar menghirup udara segar di pagi hari, Ayu beranjak dari kamarnya menuju taman kota yang terletak di samping rumahnya. Ditemani semilir angin pagi yang dingin dan embun yang masih menempel di dedaunan ia meneruskan hobinya.Kala itu ia ditemani oleh sahabatnya yang selalu menyertainya dimanapun dia berada.Sebuah gelang putih yang indah selalu melingkar menghiasi tangan putihnya adalah sahabatnya.Gelang itu merupakan pemberian dari kakak lelakinya di ulang tahunnya yang ke tujuh belas setahun yang lalu sekaligus juga sebagai kenangan terakhir dari kakanya karena tak lama setelah ulang tahunnya dia meninggal. Kakaknya dulu adalah seorang mahasiswa Universitas Gajah Mada yang terkenal sangat pandai, baik, pengertian dan tidak sombong.Tapi dibalik kebaikannya itu Allah berkehendak lain kakaknya telah dipanggil oleh Allah ketika ia sedang berjuang melawan penyakit Leukimia yang dideritanya.

Kakaknya merupakan satu- satunya orang yang mendukung keinginan Ayu menjadi seorang penulis karena orang tuanya menentang keinginannya itu. Mereka ingin Ayu menjadi seorang dokter seperti Ayahnya.Tapi walau begitu Ayu terus menekuni hobinya menulis demi kakaknya yang juga seorang penulis dan juga karena cita- citanya. Ketika Ayu sedang termenung di taman tiba- tiba datang mas Firman teman kakak Ayu.

‘’ Selamat Pagi Ayu…!’’ucap Firman menyapa Ayu yang sedang termanung itu.
‘’ Pagi juga mas Firman ‘’ jawabnya dengan nada kaget
‘’ Kamu kenapa yu, kok kayaknya sedih banget…?
‘’ Ayu nggak apa- apa kok mas!’’
‘’ Jangan bohong yu. Mas tahu pasti kamu sedang memikirkan mas Ragil. Yu, biarlah dia tenang di alam sana dan mas tahu memang nggak gampang melupakan seseorang yang kita kasihi.
‘’ Tapi mas, Ayu benar- benar kangen sama mas Ragil dan Ayu butuh mas Ragil sekarang….!’’
‘’ Yu, kamu boleh saja kengen sama mas Ragil tapi kamu juga harus memikirkan masa depan kamu…! Kamu masih ingatkan dengan pesan mas Ragil dulu ketika dia masih hidup?
‘’ Ya mas Ayu ingat kok ‘’
‘’ Tapi kalau kamu ingat kenapa kamu mengecewakannya?
‘’ Ayu nggak bermaksud mengecewakan mas Ragil tapi Ayu Cuma ingin mengenang mas Ragil saja mas…!’’
‘’ Yu cara kamu mengenang mas Ragil itu salah, Apa kamu ingin membuat dia tidak tenang di alam sana…?
‘’ Hik…hik…..hik ‘’ Ayu menangis menjadi- jadi
‘’ Yu ,Udah nangisnya malu dong sama anak- anak kecil itu…!!!’’
‘’ Mas Firman benar, Ayu harus bisa membahagiakan mas Ragil.Ayu sekarang akan berusaha agar menjadi seorang penulis yang hebat seperti mas Ragil.’’
‘’ Nah gitu dong….!Sekarang kamu senyum biar tambak cantik…!’’
‘’ Ayu tahu mas sebenarnya mas melakukan semua ini karena mas sayang sama Ayu.Tapi maafin Ayu mas….. Ayu belum bisa menerima cinta mas Firman karena Ayu ingin menggapai cita- cita Ayu dulu…!’’ucapku dalam hati.
‘’ Ayu…yu…yu …kok bengong sih .lihat tu ayam tetangga pada mati karena kamu bengong!’’
‘’ Ah mas ini bisa aja…! Mas kamu nggak kuliah apa? Kan biasanya jam segini mas udah pergi kuliah…!!!
‘’Oh….ya, mas lupa kalau gitu mas berangkat dulu ya ? kamu masih mau disini atau mau pulang kalau mau pulang bareng mas aja…!’’
‘’ Ya makasih tapi apa nggak ngrepotin nih…?’’
‘’ Ya nggaklah mas malah senang…, kalau gitu ayo kita berangkat…!’’
Ketika Ayu berdiri tiba- tiba kepalanya terasa sagat sakit dan setelah itu Ayu tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan dirinya. Ketika ia sadar dari pingsannya yang dilihatnya adalah ruangan yang berwarna serba putih, Ayah dan Ibunya serta mas Firman yang waktu itu terlihat sangat panik.
‘’ Ayu sekarang dimana Bu…?’’
‘’ Kamu sekarang di Rumah sakit Nak…!’’
‘’ Bu…! Kepala Ayu sakit banget .Aduu…uuu…uuuhh sakit bu…!’’
‘’Ayu kamu jangan bikin ibu tambah panik dong…!’’
‘’Tapi kepala Ayu sakit banget..!!!’’
Setelah itu Ayu pingsan lagi dan Dokter mengatakan bahwa hasil pemeriksaan menyatakan Ayu terkena penyakit Leukimia seperti kakaknya dulu.Semua orang yang ada diruangan itu sangat kaget mendengar berita itu termasuk Firman.
Hari demi hari dilalui Ayu di Rumah sakit itu dengan keterpurukan yang terus membayanginya semangat Ayu perlahan telah berubah menjadi rasa pesimis . Tapi Firman terus memberi semangat kepada Ayu agar kembali menulis demi cita- cita yang diimpikannya.
‘’ Mas Firman kenapa mas mau berteman dengan orang penyakitan seperti Ayu…?’’
‘’ Ayu kamu jangan ngomong gitu…! Manusia itu nggak ada yang sempurna, ,sesempurnanya manusia itu pasti juga mempunyai kekurangan. Jadi kamu nggak perlu minder dan kamu masih ingatkan kata mas Ragil …? Manusia adalah makhluk yang tinggi derajatnya dan disamping kekurangan seseorang pasti ada kelebihan yang tak pernah kita sangka.’’
‘’ Mas Firman benar,Ayu harus bangkit dan menggapai impian Ayu.Ayu akan buktikan kepada semua orang bahwa seseoarang yang penyakitan itu nggak hanya berbaring di tempat tidur dan minum obat saja tapi juga bisa berkarya.
‘’ Nah gitu dong Yu…!’’
‘’AKU PASTI BISA “ Teriak mereka berdua dengan penuh semangat.
Kini perlahan Ayu mulai bangkit dari keterpurukannya. Ayu menuangkan ide- idenya lewat tulisannya dan kini dia telah menjadi seorang penulis yang hebat.Tapi dibalik keberhasilannya ada juga pengorbanan Ayu yang nggak kalah menyedihkan, nggak lebih dari seratus karyanya ditolak mentah- mentah oleh penerbitan.Tapi hal itu tak mengubah semangat Ayu untuk menjadi seorang penulis, Ayu hanya menganggap kegagalannya itu adalah sebuah keberhasilan yang tertunda dan kini telah terbukti dia sudah menjadi seorang penulis yang hebat.

Ayu terus bersemangat menjalani hidupnya dan dia juga semakin sering menjalani kemo terapi untuk kesembuhannya.Malam itu ketika Ayu handak menuju dapur tiba- tiba Ayu jatuh pingsan lalu Ayu segera dibawa kerumah sakit untuk diperiksa .

‘’Ayu terlalu capek dan juga sering telat makan jadi kondisinya sekarang kembali memburuk’’ Ucap dokter yang memeriksa Ayu saat itu.
‘’Jadi sebaiknya apa yang harus kami lakukan dok?’’Tanya orang tua Ayu dengan penuh kekhawatiran.

‘’Sebaiknya Ayu jangan dibiarkan terlalu capek dan kelihatannya Ayu marasa tertekan, kalau boleh saya sarankan sebaiknya biarkanlah Ayu melakukan apa yang dia inginkan, maaf bukannya saya ikut campur tapi saya Cuma berusaha mengingatkan saja…!’’

‘’Ya… Dok kami terlalu memaksa kehendak kami kepada Ayu mungkin hal itulah yang menyebabkan Ayu merasa tertekan.Kami paham benar bahwa Ayu sangat suka menulis sama seperti kakaknya dulu tapi kami terlalu keras kepala sampai- sampai kami mengabaikan keinginan anak- anak kami.’’

‘’ Mungkin sekarang anda dapat memperbaiki kesalahan anda dengan mendukung Ayu menjadi seorang penulis sesuai dengan yang Ayu cita- citakan.’’
‘’ Terimakasih atas sarannya Dok…!’’

Setelah itu datanglah seorang lelaki bertubuh besar dengan memakai jas hitam.

‘’Maaf apa anda yang bernama Ayu…?’’
‘’Ya saya Ayu ,kalau boleh tahu ada perlu apa ya…?’’
‘’Saya hanya mau menyampaikan surat dari mas Firman.’’
‘’Makasih’’ Ucap Ayu dengan nada penasaran.
Dengan hati yang tak sabar Ayu segera membuka surat itu.

Assamu’alaikum Wr.Wb
Dear : Ayu
Hallo Ayu ! To the point aja yach
Aku denger- denger kamu sekarang sering sakit- sakitan ya?
Yu, disini mas mau jujur sama kamu sebenarny mas pergi ke Amerika
Itu untuk berobat .Sejak kecil mas sudah mengidap penyakit kanker
Hati. Yang perlu kamu tahu yu, mas melakukan semua ini karena
mas sayang sama kamu dan jika nanti mas sudah sembuh mas akan
melamar kamu.Kamu juga harus berjuang melawan penyakit kamu ya?
Ayu yakinlah kita pasti bisa melawan penyakit kita ini. sekian dulu dari mas .
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Sincerely

Firman.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Cerpen "SECERCAH HARAPAN DALAM KEHAMPAAN""

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel