Asal Usul Kesenian Jaranan Kediri


Halo Sobat,
Taukah Sobat apa itu kesenian jaranan? Kalau sobat belum tau pas banget karena video ini akan membahas asal usul kesenian jaranan kediri.
Jaranan Kediri adalah salah satu kesenian tarian daerah yang memiliki ciri khas yaitu adanya suara gamelan yang rancak, tabuhan gendang dan gong serta tiupan terompet.
Pegalaran kesenian Jaranan Kediri biasanya diadakan ketika ada event tertentu, seperti bersih desa atau nyadranan. Hari Kemerdekaan atau tasyakuran.
Kalau sobat tinggal di daerah kediri dan jawa timur pasti akan sering melihat kesenian jaranan.
Yang menarik dari kesenian Jaranan Kediri ini bukan hanya alur ceritanya, namun adanya unsur magis dan akrobatiknya yang menegangkan.
Seperti makan beling, mengupas kelapa dengan gigi dan masih banyak lagi atraksi yang meneganggkan sampai ada yang kesurupan.
Bagi kamu yang tinggal di perkotaan, pasti akan terasa asing mendengar Jaranan Kediri Ya kan? Nah, karenanya kali ini kita akan mengulas sedikit tentang kesenian Jaranan Kediri. Sekalipun kamu belum pernah menyaksikan secara langsung, setidaknya bisa kenal terlebih dulu.
Asal Usul Kesenian Jaranan Kediri

 Diceritakan pada zaman dahulu kala adal seorang raja yang sakti madra guna, Raja itu bernama Raja Airlangga.
Raja Airlangga ini mempunyai   seorang putri yang sangat cantik rupawan  yang bernama Dewi Sangga Langit. Dewi Songgo Langit adalah putri  kediri yang sangat cantik rupawan.
Karena kecantikan dari dewi Songga langit ini Pada waktu itu banyak sekali yang ingin melamar, maka Dewi Songgo Langitmbil keputusan oleh Raja Airlangga untuk membuat sayembara untuk mencari pendamping dari Dewi Songgo langit.
Setela diadakan sayembara ini banyak sekali yang ikut melamar dewi songgo langit, Pelamar-pelamar Dewi Songgo Langit semuanya sakti mandra guna. Mereka sama-sama memiliki kekuatan dan ilmu yang tinggi.
Yang perlu di ketahui bahwa Dewi Songgo Langit sebenarnya tidak mau menikah dan Dewi Songgo Langit Ingin menjadi petapa saja. Prabu Airlangga memaksa Dewi Songgo Langit untuk menikah. Akhirnya Dewi Songgo Langit mau menikah dengan satu permintaan. Barang siapa yang bisa membuat kesenian yang belum ada di Pulau Jawa Dewi Songgo Langit akan menjadi suaminya.
Ada beberapa orang yang ingin melamar Dewi Songgo Langit. Mereka adalah adalah Klono Sewandono yang berasak dari Wengker,
Yang kedua adalah Toh Bagus Utusan Singo Barong Dari Blitar,
Yang ketiga adalah kalawraha seorang adipati dari pesisir kidul,
dan 4 prajurit yang berasal dari Blitar.
Para pelamar bersama-sama mengikuti sayembara yang Dewi Songgo Langitdakan oleh Dewi Songgo Langit. Mereka berangkat dari tempatnya masing-masing ke Kediri untuk melamar Dewi Songgo Langit.
Dan sebelum mereka sampai di tujuannya Dari beberapa pelamar itu mereka bertemu dijalan dan bertarung terlebih dahulu sebelum mengikuti sayembara di kediri.
Dalam Pertarungan tersebut dimenangkan oleh Prabu Klana Sewandono atau Pujangganom. Dalam pertempuran itu Pujangganom menang dan Singo Barong kalah.
Pada saat kekalahan Singo Barong, rupanya singo Barong memiliki janji dengan Pujangganom. Singa Barong meminta jangan dibunuh. Pujangganom rupanya menyepakati kesepakatan itu. Akan tetapi Pujangganom memiliki syarat yaitu Singo Barong harus mengiring temantenya dengan Dewi Sangga Langit ke Wengker.
Akhirnya Iring-iringan temanten itu harus diiringi oleh jaran-jaran dengan melewati bawah tanah dengan diiringi oleh alat musik yang berasal dari bambu dan besi. Pada zaman sekarang besi ini menjadi kenong. Dan bambu itu menjadi terompet dan jaranan.
Dalam perjalanan mengiringi temantenya Dewi Songgo Langit dengan Pujangganom itu, Singo Barong beranggapan bahwa dirinya sudah sampai ke Wengker, tetapi ternyata Dewi Songgo Langit masih sampai di Gunung Liman. 
Asal Usul Kesenian Jaranan Kediri

Singo Barong  marah-marah pada waktu itu sehingga Singo Barong  mengobrak-abrik Gunung Liman itu dan sekarang tempat itu menjadi Simoroto. Akhirnya sebelum Singo Barong  sampai ke tanah Wengker Singo Barong  kembali lagi ke Kediri. Singo Barong  keluar digua Selomangklung. Sekarang nama tempat itu adalah selomangkleng.
Karena Dewi Songgo Langit sudah diboyong ke Wengker oleh Prabu Klana swandono dan tidak mau menjadi raja di Kediri, maka kekuasaan Kahuripan diberikan kepada kedua adiknya yang bernama Lembu Amiluhut dan Lembu Amijaya.
Setelah Dewi Sangga Langit diboyong oleh Prabu Klana swandono ke daerah Wengker Bantar Angin, Dewi Sangga Langit mengubah nama tempat itu menjadi Ponorogo. Jaranan muncul di kediri itu hanya untuk menggambarkan boyongnya dewi Songgo langit dari kediri menuju Wengker Bantar Angin.
Pada saat boyongan ke Wengker, Dewi Sangga Langit dan Klana Sewandana diarak oleh Singo Barong. Pengarakan itu dilakukan dengan menerobos dari dalam tanah sambil berjoget. Alat musik yang dimainkan adalah berasal dari bambu dan besi. Pada zaman sekarang besi ini menjadi kenong.
Untuk mengenang sayembara yang diadakan oleh Dewi Songgo Langit dan Pernikahanya dengan Klana Sewandono atau Pujangga Anom inilah masyarakat kediri membuat kesenian jaranan. Sedangkan di Ponorogo Muncul Reog. Dua kesenian ini sebenarnya memiliki akar historis yang hampir sama. Seni jaranan ini diturunkan secara turun temurun hingga sekarang ini.
Dalam rangka memperbaiki citra jaranan di muka masyarakat, seniman jaranan mulai menghaluskan jaranan. Pada tahun 70an gerakan untuk merevitalisasi jaranan sudah mulai diupayakan.
Penghalusan dalam wilayah tarian, dandanan dan musikpun sudah mulai dilakukan. Para seniman jaranan mulai memodifikasi jaranan dari pakaian, make up, dan tarian serta musiknya. Dalam berebagai pertunjukan jaranan pemain jaranan harus memiliki sifat yang arif, sopan dan memiliki tata karama yang tinggi kepada masyarakat dan para penanggap. Sifat itu harus diperankan oleh para seniman dalam berbagai waktu dan kesempatan.
Kemudian pada tahun 1977 setelah berdirinya Samboyo Putro, jaranan mulai mendapat pengakuan dari masyarakat dan pemerintah. Jaranan Samboyo Putro ini didirikan oleh mantan polwil Kediri dari Bandar Lor yang bernama pak Sukiman (samboyo). Dengan adanya jaminan dari pihak kepolisian inilah jaranan mulai berani bertengger di kediri bersaing dengan kesenian lainya. Jaranan Samboyo itu dahulu mendapatkan wangsit dari Pamenang Joyoboyo. Pak Sukiman mendapatkan wahyu dari Pamenang agar mendirikan jaranan dan menguri-uri kesenian asli kediri ini dan untuk memperbaiki citra kesenian jaranan yang dahulu dianggap jelek atau ilmu sesat di mata masyarakat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel