Hukum merasa diri paling benar

Yuli Kristiana KKN MDR INKARNAS 2020

 Kangsoma.com-(jontro)Akhir-akhir ini banyak bermunculan kaum eksklusivisme. Eksklusivisme sendiri merupakan suatu faham yang menganggap bahwa hanya dirinya yang paling benar dalam beragama. Sekarang orang-orang suka menampakkan dirinya merasa paling benar dalam beragama, merasa dirinya paling Islami, tanpa mengetahui nilai-nilai Islam yang mendalam. Hal tersebut tampak pada tulisan-tulisan dan meme yaang beredar pada media sosial seperti pada aplikasi Face book, you tube, twitter, dan IG.

 

Selain itu sekarang banyak sekali berkembangnya kajian-kajian keagamaan di masjid-masjid atau di rumah-rumah yang dihadiri oleh kelompok-kelompok tertentu. yang bertujuan untuk menghina kelompok lain. Padahal Islam sendiri mengajarkan untuk menghargai perbedaan, mengembangkan sikap toleransi antar umat beragama tanpa memandang suku, ras, budaya, keturunan, dan lain sebagainya. Perbedaan dalam beragama dan perbedaan dalam sebuah faham pada dasarnya bukan merupakan kontradiksi antara satu dengan yang lainnya, melainkan sebuah bentuk kesatuan yang subtansial yang tidak terpisahkan. Perbedaan merupakan suatu bentuk keniscayaan, bukan sesuatu yang harus dipertentangkan. Perbedaan juga merupakan khasanah pemikiran yang perlu diapresiasi.

 

Tetapi apa yang terjadi sekarang? Sikap merasa dirinya paling benar dalam beragama, semakin menjamur dilapisan masyarakat, sikap tanpa mau menerima perbedaan yang dianut orang lain, justru prinsip merasa diri paling benar akan menjerumuskan kita ke dalam kesombongan dan kekufuran. Begitu pula ketika mempelajari ilmu untuk memperdalam agama, ketika kita telah pintar menguasai ilmu agama, kita cenderung merasa paling benar dibanding orang lain. Dan lebih parahnya lagi memandang orang lain tidak beriman atau kafir.

 

Merasa diri paling benar adalah merupakan suatu perbuatan buruk, berbuat buruk  memang merupakan suatu kodrat manusia, tidak ada satupun orang di dunia ini yang luput dari kesalahan dan selalu berbuat benar dari kesalahannya. Hal ini memang  manusiawi, karena selain memiliki akal manusia juga memiliki hawa nafsu yang terkadang mengalahkan akalnya. Di sinilah fungsi ajaran agama dalam kehidupan manusia. Ajaran agama seharusnya menjadi pegangan hidup dan batas-batas yang bisa menjaga manusia agar tetap berada di jalan kebenaran. Meski sering khilaf dan berbuat salah akibat hawa nafsu, dengan berpegang pada ajaran agama, manusia diharapkan akan terus kembali ke jalan yang lurus sesuai ajaran agamanya.

 

Dengan demikian sebagai manusia tentunya banyak memiliki kekurangan, ada baiknya umat muslim lebih dapat mengenal dirinya sendiri melalui instropeksi diri. Keutamaan instrokpesi diri adalah menyadari segala kekurangan yang dimiliki tanpa harus rajin dan sibuk merendahkan orang lain apalagi dengan menghujat dan mencaci serta mengklaim bahwa dirinya adalah yang paling benar. Karena bisa jadi orang lain yang direndahkan, dianggap salah dan tidak suci, lebih berdosa, kurang beriman, dan dianggap tidak pantas masuk surga menurut kriteria mereka sejatinya adalah jauh lebih baik dari dirinya.

 

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sikap merasa paling benar tidak diperbolehkan dalam agama, karena hal itu dapat memicu perpecahan dan konflik baik antar agama maupun intra agama, di samping itu merasa diri paling benar bisa memunculkan rasa sombong pada diri kita.

 

Hal ini menunjukkan bahwa merasa diri paling benar dengan selalu melihat dan mengurusi kekurangan orang lain hingga membuat kita lupa tidak bercermin pada diri sendiri yang juga penuh kekurangan dan kesalahan. Demikianlah sedikit ulasan singkat tentang hukum merasa dirinya paling benar, semoga bermanfaat.( Penulis : Yuli Kristiana KKN MDR INKARNAS IPMAFA 2020)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel