Pentingnya Menjaga Kerukunan Antar Umat Beragama

Dewi Irnawati KKN MDR EUVOLA 2020

Kangsoma.com-(Pucakwangi)Kerukunan antar umat beragama disebut pula dengan toleransi. Toleransi menunjukkan arti sikap saling memahami, mengerti, dan membuka diri dalam bingkai persaudaraan. Bila pemaknaan ini direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari, maka toleransi dan kerukunan tak ayal akan bersanding apik dalam kehidupan di masyarakat. Peranan kita sebagai warga negara Indonesia, kerukunan beragama berarti kebersamaan antar umat beragama dengan Pemerintah dalam rangka menyukseskan pembangunan nasional dan menjaga kesatuan dan persatuan Negara Republik Indonesia. Islam mengajarkan hidup damai, rukun dan toleran. Seperti termaktub dalam firman Allah SWT:

لَآ اِكْرَاهَ فِى الدِّيْنِۗ قَدْ تَّبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَّكْفُرْ بِالطَّاغُوْتِ وَيُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقٰى لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗوَاللّٰهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas (perbedaan) antara jalan yang benar dengan jalan yang sesat. Barang siapa ingkar kepada Tagut dan beriman kepada Allah, maka sungguh, dia telah berpegang (teguh) pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q. S. Al-Baqarah: 256)

 

Kerukunan umat beragama adalah kondisi dimana antar umat beragama dapat saling menerima, menghormati keyakinan masing-masing, tolong menolong, dan bekerjasama dalam mencapai tujuan bersama.


Dan jikalau Rabbmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya. (QS. 10:99) Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. 10:100)” (Yunus: 99-100)

 

Walau mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam, ada beberapa agama lain yang juga dianut penduduk ini. Kristen, Khatolik, Hindu, dan Budha adalah contoh agama yang juga banyak dipeluk oleh warga Indonesia.

 

Setiap agama tentu punya aturan masing-masing dalam beribadah. Namun perbedaan ini bukanlah alasan untuk berpecah belah. Sebagai satu saudara dalam tanah air yang sama, kita harus menjaga kerukunan umat beragama di Indonesia agar negara ini tetap menjadi satu kesatuan yang utuh.

 

Menjaga kerukunan umat beragama di indonesia dapat dilakukan dengan menjunjung tinggi rasa toleransi antar umat beragama, baik sesama antar pemeluk agama yang sama maupun yang berbeda. Rasa toleransi dapat diaplikasikan dalam berbagai macam bentuk. Misal, perijinan pembangunan tempat ibadah oleh pemerintah, tidak saling mengejek dan mengganggu umat lain, atau memberi waktu pada umat lain untuk beribadah bila memang sudah waktunya.

 

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk menunjukkan sikap toleransi. Hal ini sangat penting demi menjaga tali kerukunan umat beragama di Indonesia. Selalu siap membantu sesama. Jangan melakukan diskriminasi terhadap suatu agama, terutama saat mereka membutuhkan bantuan.

 

Selalu jagalah rasa hormat pada orang lain tanpa memandang agama apa yang mereka anut. Misalnya dengan selalu berbicara halus dan tidak sinis. Hal ini tentu akan mempererat kerukunan umat beragama di Indonesia.

 

Bila terjadi masalah yang menyangkut agama, tetap selesaikan dengan kepala dingin tanpa harus saling menyalahkan. Para pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemerintah sangat diperlukan peranannya dalam pencapaian solusi yang baik dan tidak merugikan pihak manapun, atau mungkin malah menguntungkan semua pihak.

 

Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Wakil Presiden Ma'ruf Amin "Kerukunan umat beragama adalah kunci, kalau ini terganggu maka kerukunan nasional akan terganggu,"

Sebagai negara yang heterogen, terdiri atas berbagai suku, agama, ras dan etnis; persatuan antarmasyarakat harus terjalin dengan mengedepankan dialog dan kesepakatan lahir yaitu Pancasila.

 

Wapres menegaskan konflik antarmasyarakat bisa terjadi apabila tidak ada komunikasi yang baik antarpemuka agama dan juga di antara masyarakat.

"Sesungguhnya ketidakdamaian itu karena tidak ada dialog, atau sesudah dialog tidak terdapat kesepakatan,".(Penulis : Dewi Irnawati KKN MDR EUVOLA IPMAFA 2020)


 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel