Moderasi Beragama oleh KKN IK IAIN KUDUS 2021


Moderasi beragama adalah  proses memahami dan mengamalkan ajaran agama secara seimbang dan adil, untuk menghindari perilaku yang menyimpang. Layaknya makna Semboyan Bhineka Tunggal Ika yaitu Berbeda-beda tapi tetap satu jua. Ini menjelaskan secara jelas bahwa walaupun negara kita Indonesia memiliki berbagai macam ras ,suku, bangsa, adat-istiadat dan agama yang beraneka ragam tetapi semuannya tetap satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dalam menjaga keberagaman ini perlunya ditumbuhkan sikap toleransi dan saling menghargai. Karena pada dasarnya semua agama mengajarkan nilai-nilai kerukunan, menolak ajaran intoleransi. Begitupun watak budaya bangsa Indonesia adalah ramah, suka bergotong royong.

Moderasi beragama bertujuan untuk menumbuhkan toleransi, dan menciptakan perdamaian,Toleransi merupakan bagian terpenting dari moderasi beragama. Maknannya, sebagai cara pandang, perilaku beragama dan sikap, dan moderasi yang beragam akan melahirkan sikap toleransi. Negara kita Indonesia mengakui adanya 6 agama yang di anut di masyarakat yakni

1. Islam adalah agama yang damai dan setiap muslim diharusnkan saling menjaga perdamaian. Agama islam dibawa oleh Rasulullah SAW yang nantinya akan memberi syafaat di hari akhir. Agama islam dikatakan agama yang selamat dan agama penyempurna.

 

2. Budha adalah agama dan filsafat yang berasal anak benua india yang mencakup beragam tradisi kepercayaan dan praktik berdasarkan yang diajrkan oleh Siddharta Gautama. Agama budha adalah umat yang berkeyakinan kepada Tuhan yang maha esa namun dalam penyebutnya berbeda-beda.

3. Kristen adalah agama yang berdasarkan kepercayan kepada ajaran, hidup, wafat dan kebnagkitan Isa Al Masih.

4. Hindu  adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengasihi kepada sesama ciptaan Tuhan.

5. Khatolik adalah sebuah agama yang memiliki ajaran yang bersifat umum dan tersebat di seluruh duni dan mampu diterima di seluruh dunia.

6. Konghucu adalah agama yang lahir di Tiongkok dengan mengambil nama dari Sang Nabi Khingcu.

Selain 6 ajaran agama tersebut di Indonesia masyarkat juga meyakini kepercayaan agama leluhur, ini merupakan impelmentasi dari semboyan Indonesia.Toleransi bermakna wujud dari sikap toleran menghargai perbedaan, tenggang rasa, dan mampu menerima sekolmpok yang berbeda. Moderasi beragama bisa memberi tahukan kita bagaimana dalam menerapkan nilai-nilai toleran. Contoh dari toleransi beragama seperti :

·         Tidak memaksa orang lain untuk menganut agama seperti yang kita anut

·         Tidak mengejek atau mencemooh agama lain

·         Tidak melarang atau mengganggu umat agama lain dalam beribadah

·         Memberikanhak yang sama pada setiap agama tanpa ada yang dikurangi atau berlebihan

·         Tidak merusak tempat ibadah agama lain

Indonesia mempunyai komitmen terciptannya kehidupan beragama yang menghargai setiap warga Negara. Ini kita bisa lihat dari Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan :

“Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaan itu.” (Pasal 29 ayat (2)).

Umat beragama islam juga bertoleransi dengan konsep yang sudah jelas dan memang di tetapkan oleh Allah untuk kita mempunyai sikap toleransi atau tidak memaksakan kehendak orang lain. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an Surah Al- Kafirun  ayat 6 :

ليدين ؤ دينكم لكم 

Artinya : “Untukmu agamamu dan untukku agamaku”.        

Moderasi beragama dengan prinsip toleransi adalah prinsip menjadikan bangsa satu, berintegrasi dan menjunjung tinggi nilai-nilai kesatuan. Nilai nilai kemanusiaan dan toleransi perlu dinyatakan dari segi moral dan akhlak. Beragama dapat dilakukan dengan baik dan benar tanpa sikap ekstrimisme atau tindakan yang malampui batas dan berlebihan. Untuk menghindari sikap intoleransi diperlukan pendidikan toleransi dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan dari ajaran masing-masing tiap kepercayaan. Dengan sikap ini memunculkan harapan besar untuk terpeliharanya harmonis antara masyarakat beragama di Negara kita. Sekaligus mencegah adanya keagamaan yang radikal yang nantinya berwujud mengganggu terhadap kerukuranan.

Moderasi beragama dalam kontes keberadaban kemanusiaan juga mengajarkan kita untuk menerima yang sesuai dengan agama dan budaya bangsa dan menolak atau memfilter secara bijak cara pandang, sistem nilai yang tidak sesuai dengan agama dan budaya bangsa, sambil berdakwah. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial suka hidup bersama dan suka bekerja sama dalam keragaman. Suka saling tolong-menolong saling membantu saling memberi manfaat antara satu dengan yang lain. Manusia pada dasarnya bersaudara.

Dalam menuwujudkan sikap tersebut perlu penguat Tri pusat pendidikan, yakni pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat, dan pendidikan formal khususnya pendidikan karakter pada diri anak. Pendidikan karakter memang sangat penting pada anak. Jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang harmonis, toleransi dan damai, maka mereka akan mengembangkan perilaku dan pikiran dengan sehat dan bijaksana. Bila kita saat ini semua orangtua telah mengajarkan kebaikan-kebaikan kepada anak-anak. Orang tua dapat memberi pemahaman kepada anak bahwa manusia merupakan makhluk sosial yang hidup satu sama lain baik antar etnis, suku, budaya, bahasa dan agama. Artinya mempersembahkan pemahaman moderasi beragama sebenarnya sudah dimulai sejak ia berada dalam lingkungan keluarga atau di rumah. Pada cukupnya memberi pemahaman moderasi beragama tidak diberikan oleh keluarga saja, ada lembaga pendidikan yang mendukung lebih besarnya pengetahuan kita.

Dalam meningkatkan moderasi beragama pada anak ini, keluarga khususnya orangtua dan tenaga pendidik harus bersinergi dalam memperkuat moderasi beragama pada anak, orang tua dapat melakukan pendekatan lebih dalam mengajarkannya. Model pendidikan yang baik salah satunya yaitu dengan sikap skeptis atau meragui. Artinya anak didik untuk tidak mudah mempercayai sesuatu yang diterima begitu saja. Dengan itu maka anak akan mulai memfilter dan melihat kembali sesuatu yang didapat sehingga anak memiliki sikap yang bijaksana, toleran, rendah hati dan tidak mudah menilai kesalahan dan perbedaan pada orang lain. Adanya sikap bijaksana dan moderat dalam beragama sejak dini, diharapkan mampu menjadikan pribadi anak yang baik, sholih dan toleran dalam kehidupan beragama saat ini dan di masa depan. Pemeluk agama haruslah memiliki sifat toleran kepada sesama karena sikap toleran merupakan seruan dari setiap agama untuk saling menghargai perbedaan, karena berbeda itu unik. Sikap toleran ini harus ditumbuhkan sejak dini dan terus diajarkan agar menghindari kerikil kerikil atau gesekan yang nantinya mengakibatkan perpecahan. Kesadaran mengajarkan sikap toleran ini juga perlu dan harus ditanamkan sejak dini sehingga dapat saling memahami dan memiliki perbedaan bukanlah masalah tapi anugrah keistimewaan.

Untuk moderasi agama di desa Keben sendiri sudah berjalan dengan baik karena di desa Keben sendiri mayoritas masyarakatnya bergama islam. Dan sekarang banyak sekali tempat-tempat TPQ dan madrasah yang mengajarkan tentang ilmu agama sejak dini dan saling menghormati.  Masyarkatnya juga diajarkan  untuk saling tolong menolong antara tetangga dan saling menyapa ketika bertemu walaupun hanya sebatas memberikan senyuman, karena senyum juga termasuk ibadah menurut agama islam. Berbeda jika berada diruang lingkup kota besar pasti disana memiliki banyak sekali perbedaan agama dan sifat indivual yang muncul karena mereka sibuk dengan urusannya masing-masing. Namun pada dasarnya di kota juga saling menghormati dan menghargai perbedaan hanya saja mereka kurang adanya saling interaksi  di lingkungan sekitar, maka berkesan sifat indivualisme.

Penulis : Shinta Aulia, Jefiska Rohman P, Ria Yusnul U (MAHASISWI IAIN KUDUS),KKN dari Ds.Keben - Tambakromo – Pati.

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel